Kamis, 05 November 2015

contoh makalah animisme dan dinamisme



Animisme dan Dinamisme

BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Masyarakat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk hidup manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat. Masyarakat Jawa, atau tepatnya suku bangsa Jawa, secara antropologi budaya adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai ragam dialeknya secara turun-temurun.[1] Masyarakat Jawa merupakan suatu kesatuan masyarakat yang diikat oleh norma-norma hidup karena sejarah, tradisi, maupun agama.
Sebelum datangnya Islam ke pulau Jawa, masyarakat Jawa dikenal sebagai penganut animisme dan dinamisme. Ajaran animisme dan dinamisme, atau yang sering disebut orang Barat sebagai religion magis ini sudah ada sebelum datangnya Hinduisme dan Budhisme. Hal ini merupakan nilai budaya yang paling mengakar dalam masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Masyarakat Jawa sangat kental dengan masalah tradisi dan budaya. Masyarakat Jawa yang tidak memiliki pemahaman yang cukup terhadap agama yang dianutnya, lebih banyak menjaga warisan leluhurnya dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, meskipun bertentangan dengan ajaran agama yang mereka anut. Sebagai masyarakat yang masih sederhana, wajar bila animisme dan dinamisme merupakan inti kebudayaan yang mewarnai seluruh aktivitas kehidupan masyarakatnya.
Makalah ini mengkaji tentang kepercayaan animisme dan dinamisme yang ada pada masyarakat serta bagaimana sikap masyarakat terhadap orang yang sudah meninggal serta bentuk-bentuk kultus sesembahan yang dihasilkan dari adanya sikap tersebut.

2.      Rumusan Masalah

Untuk mempermudah pembaca dalam memahami karya tulis ini, penulis mencoba merumuskan beberapa masalah yang berkaitan dengan tema tersebut, yaitu:
1.  Apakah Pengertian Animisme Dan Dinamisme?
2.   Bagaimanakah Sikap Masyarakat Terhadap Orang Yang Sudah Meninggal?



BAB II
PEMBAHASAN


1.      Sekilas Tentang Animisme Dan Dinamisme


A.       Animisme

Pandangan hidup masyarakat Jawa memang berakar jauh ke masa lalu. Masyarakat Jawa sudah mengenal Tuhan sebelum datangnya agama-agama yang berkembang seperti sekarang ini. Suku bangsa Jawa sejak zaman prasejarah telah memiliki kepercayaan animisme yaitu kepercayaan kepada makhluk halus atau roh.
Animisme berasal dari kata anima, anime; dari bahasa Latin Animus, dan bahasa Yunani Avepos, dalam bahasa Sanskerta disebut Prana, dalam bahasa Ibrani disebut Ruah, yang artinya napas atau jiwa.[2]
Dalam Kamus Ilmiah Populer juga dijelaskan bahwa animisme adalah suatu paham bahwa alam ini atau semua benda memiliki roh atau jiwa.[3]
Kuncoroningrat dalam bukunya yang berjudul Sejarah Kebudayaan Indonesia juga menjelaskan bahwa animisme adalah kepercayaan yang menganggap bahwa  semua yang bergerak dianggap hidup dan mempunyai kekuatan ghaib atau memiliki roh yang berwatak baik maupun buruk.[4]
Dapat disimpulkan bahwa animisme adalah suatu kepercayaan tentang adanya roh atau jiwa pada benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan juga pada manusia sendiri atau dengan kata lain animisme itu mempercayai bahwa setiap benda yang ada di bumi ini (seperti laut, gunung, hutan, gua, atau tempat-tempat tertentu), memiliki jiwa yang harus dihormati agar jiwa tersebut tidak mengganggu manusia tetapi malah membantu mereka.
Secara  singkat, animisme dapat diartikan kepercayaan masyarakat terhadap roh leluhur. Dalam keyakinan masyarakat ini, mereka meyakini bahwa orang yang telah meninggal dianggap sebagai yang maha tinggi, menentukan nasib dan mengontrol perbuatan manusia. Roh orang yang meninggal dianggap dan dipercayai mereka sebagai makhluk kuat yang menentukan segala kehendak dan kemauan yang harus dilayani.[5]
Dengan kepercayaan tersebut mereka beranggapan bahwa disamping semua roh yang ada, terdapat roh yang paling berkuasa dan lebih kuat dari manusia. Dan, agar terhindar dari roh tersebut mereka menyembahnya dengan jalan mengadakan upacara disertai sesaji. Upacara tersebut dilakukan oleh masyaratakat Jawa agar keluarga mereka terlindung dari roh jahat.[6]  Itu semua mereka lakukan karena mereka percaya bahwa roh-roh leluhur mampu memberikan sabda ramalan kepada anak keturunan mereka yang selalu meminta saran pada saat dalam keadaan kesulitan.[7]
Dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid II, Priyohutomo menambahkan bahwa masyarakat Jawa melakukan upacara itu untuk meminta berkah pada roh, dan meminta pada roh jahat agar tidak mengganggunya. Mereka membuat beberapa monumen yang terbuat dari batu sebagai tempat pemujaan untuk nenek moyang, serta menolak perbuatan hantu jahat.[8]
Cara yang ditempuh untuk menghadirkan roh nenek moyang adalah dengan mengundang orang yang ahli dalam bidang tersebut, yang disebut perewangan, untuk memimpin acara. Mereka juga membuat patung nenek moyang agar roh nenek moyang masuk dalam patung tersebut dengan bantuan dan upaya perewangan tersebut. Sebagai kelengkapan upacara, mereka menyiapkan sesaji dan membakar kemenyan atau bau-bau lain yang digemari nenek moyang. Mereka menyempurnakan upacara tersebut dengan bunyi-bunyian dan tari-tarian agar roh nenek moyang yang dipanggil menjadi gembira dan berkenan memberikan berkah kepada keluarganya[9].
Selain dengan bantuan perewangan, cara untuk menghubungi roh orang yang sudah meninggal juga dilakukan dengan cara tidur di atas kuburan-kuburan sambil mengharapkan mendapatkan keberuntungan seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dayak di Kalimantan.[10]
Banyak kepercayaan animisme yang berkembang di masyarakat, seperti kepercayaan masyarakat Nias yang meyakini bahwa tikus yang keluar masuk rumah adalah jelmaan dari wanita yang meninggal dalam keadaan melahirkan[11].
 Dalam hubungannya dengan roh nenek moyang atau roh leluhur, dapat didapati di beberapa suku. Seperti suku Toraja, mereka mempercayai bahwa roh nenek moyang adalah penjaga serta pelindung adat; doa restu mereka sangat diharapkan karena tanpa restu mereka maka hidup akan ditimpa musibah serta bencana lain yang menimpa masyarakat. Pada suku Ngaju di Kalimantan, roh nenek moyang dianggap yang menjaga kelestarian kampung, sungai, sawah dan lain-lainnya sehingga masih berfungsi sebagaimana mestinya[12].
Para roh ini dianggap masih tetap tinggal di sekitar kediaman mereka dahulu. Karena itu mereka perlu makanan dan minuman yang harus disediakan oleh anak cucunya atau sanak keluarganya.
Selain percaya kepada roh-roh yang dianggap keramat, masyarakat Jawa juga percaya akan adanya dewa-dewa. Hal ini terlihat jelas pada keyakinan mereka akan adanya penguasa Laut Selatan yang mereka namakan Nyai Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan).[13] Masyarakat Jawa yang tinggal di daerah pantai selatan sangat mempercayai bahwa Nyai Roro Kidul adalah penguasa Laut Selatan yang mempunyai hubungan kerabat dengan Mataram (Yogyakarta). Mereka memberi bentuk sedekah laut agar mereka terhindar dari mara bahaya.
Itulah gambaran masyarakat Jawa dengan keunikan mereka dalam beragama dan berbudaya. Hingga sekarang keunikan ini justru menjadi warisan yang dijunjung tinggi dan tetap terpelihara dalam kehidupan mereka. Bahkan dengan adanya otonomi daerah, masing-masing daerah mencoba menggali tradisi-tradisi semisal untuk dijadikan tempat tujuan wisata yang dapat menambah income bagi daerah yang mengelolanya.

B.       Dinamisme

Masyarakat Jawa mempercayai bahwa apa yang telah mereka bangun adalah hasil dari adaptasi pergulatan dengan alam. Kekuatan alam disadari merupakan penentuan dari kehidupan seluruhnya[14]. Sebagai contoh, keberhasilan pertanian tergantung dari kekuatan alam, matahari, hujan, angin dan hama, tetapi mereka masih mempercayai kekuatan adikodrati di balik semua kekuatan alam tersebut. Salah satu bentuk kekuatan yang terdapat dalam dan di balik gejala-gejala alam tersebut adalah kekuatan dinamisme.[15]
Perkataan dinamisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu dunamos atau dalam bahasa Inggris disebut dynamic yang artinya kekuatan, kekuasaan dan daya.[16]
Dalam Ensiklopedi Umum dijumpai definisi dari dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu ke Indonesia.[17] Dinamisme disebut juga dengan istilah preanimisme[18] yang mengajarkan, bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai mana.[19]
Begitu juga di dalam Kamus Ilmiah Populer dijumpai bahwa arti dari dinamisme adalah kepercayaan primitif dimana semua benda mempunyai kekuatan yang bersifat ghaib.[20]
Dapat disimpulkan bahwa dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini mempunyai kekuatan ghaib. Maksud dari kekuatan tersebut adalah kekuatan yang berada dalam suatu benda (bisa berasal dari api, air, batu-batuan, benda ciptaan, pepohonan, hewan atau bahkan manusia sendiri) dan diyakini mampu memberikan manfaat atau memberikan bahaya.
Masyarakat Jawa percaya bahwa roh itu tidak hanya menempati makhluk hidup tetapi juga menempati benda-benda mati atau benda yang dianggap keramat. Biasanya benda-benda yang mereka keramatkan adalah benda-benda pusaka peninggalan dan juga makam-makam dari para leluhur atau tokoh yang mereka hormati.
Pada umumnya benda-benda yang mengandung mana ini bermanfaat bagi pemiliknya sebagai penangkal penyakit atau bahaya. Benda ini bisa berwujud pusaka seperti keris, cincin akik, tombak dan sebagainya. Di samping penolak dan penangkal, benda-benda pusaka yang mengandung mana itu juga dianggap dapat mendatangkan kehormatan dan kemuliaan kepada pemiliknya.[21]
Cara untuk menghormati fetish[22] biasanya dilakukan oleh masyarakat dengan merawat dengan baik benda tersebut, diolesi dan disirami pada waktu tertentu, disuguhi hidangan makanan atau kembang serta diasapi dengan kemenyan. Semua ini dilakukan dengan maksud agar kekuatan yang terkandung dalam benda itu bertambah, terpelihara atau terbaharui.[23]
Selain itu, cara untuk menghormati benda-benda pusaka tersebut adalah dengan cara kirab pusaka seperti yang dilakukan di Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta, yang mana sebelum dilakukan kirab, pusaka-pusaka tersebut juga dimandikan dengan air khusus dan ritual lainnya yang mengikuti dalam prosesi kirab pusaka.

2.      Macam-Macam Sikap Terhadap Orang Yang Sudah Meninggal

Pemujaan dan penghormatan terhadap para leluhur adalah manisfestasi dari macam-macam sikap terhadap orang yang telah meninggal di kalangan suku bangsa primitif. Mereka percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal tidak hanya menempati makhluk hidup tetapi juga menempati benda-benda mati, sehingga roh itu bisa terdapat dalam bebatuan, pohon-pohon, benda pusaka, dan lainnya. Karena adanya kepercayaan pada roh, timbullah pemujaan terhadap benda atau tempat yang dipercaya dihuni oleh roh leluhur.
Dengan harapan agar roh yang dipuja membalas dengan kebaikan atau tidak mengganggu mereka yang mengadakan sesembahan, adakalanya mereka memuja roh tersebut dengan upacara yang menggunakan hewan-hewan yang dianggap mengandung mana.
Menurut kepercayaan tradisional Jawa, kerbau dhungkul jantan, kambing kendhit jantan, adalah hewan-hewan utama yang mempunyai mana. Hewan tersebut biasa digunakan untuk upacara labuhan ke Gunung Merapi, ataupun ke Gunung Merbabu, ataupun ke Laut Kidul. Mereka percaya bahwa ini semua mengandung hikmah dan kekuatan ghaib untuk menghilangkan penyakit dan mencegah bencana alam.[24] Pada masyarakat primitif seperti masyarakat Jawa pada zaman dulu, dapat dijumpai beberapa macam sikap terhadap orang yang sudah meninggal, yaitu:[25]
§  Orang mati diyakini sangat membahayakan karena mati dapat menular. Sehingga, apabila manusia yang masih hidup ini tidak memperdulikan, tidak memperhatikan dan tidak merawat serta tidak melayaninya dengan baik-baik orang yang sudah meninggal, maka roh-rohnya akan membawa manusia yang masih hidup kepada penderitaan sakit yang dapat menyebabkan kematian. Terlebih lagi bilamana mereka meninggal disebabkan karena kekerasan, kekejaman atau perbuatan yang menyakitkan hati.
§  Orang mati terutama mereka yang menjadi tokoh atau para pemuka dalam masyarakat dipercaya bahwa setelah mereka meninggal, roh mereka semakin berkuasa dan menentukan kehidupan serta nasib manusia yang masih hidup. Roh-roh ini dipercaya mampu menolong dan juga mampu menyakiti.
§  Orang yang sudah meninggal tidak dapat mencukupi kebutuhannya sendiri. Karena itu harus dicukupi oleh orang yang masih hidup yaitu dengan cara upacara yang disertai sesaji.
§  Orang yang sudah meninggal diyakini rohnya dapat kembali ke dunia, kembali hidup dalam masyarakat manusia dan rohnya tadi dapat dilahirkan kembali dalam jasad-jasad yang dikendaki dan dipilih olehnya.
Karena kepercayaan yang diwujudkan dengan sikap seperti itu, masyarakat primitif  selalu melaksanakan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya dengan harapan para roh tersebut dapat memeberikan perlindungan terhadap masyarakat tersebut.
Dari bermacam-macam sikap terhadap orang yang sudah meninggal, maka kita dapatkan adanya beberapa macam bentuk kultus[26] sesembahan atau pemujaan, antara lain:[27]
a.      Tingkatan Pemujaan Menurut Kelas-Kelas
Tidak semua leluhur mempunyai tingkatan yang sama sebab di antara mereka ada yang paling berkuasa. Dan yang sering terjadi adalah anggota kelompok atau anggota suku dalam tingkatan biasa hanya dipuja untuk sementara waktu saja. Bentuk sesembahan yang sangat merata di antara suku-suku primitif adalah terhadap roh para pribadi yang agung yang merupakan pusat kultus sesembahan terhadap leluhur. Senioritas dalam masyarakat dan para pendiri keluarga menempati kultus sesembahan dalam lingkungan terbatas pada generasi jalur keturunan.

b.      Kultus Sesembahan Merupakan Tumpuan Harapan
Roh-roh para leluhur dapat dipanggil untuk membantu menghilangkan kesulitan masyarakat, terutama untuk menjamin kelestarian garis jalur keturunan karena biasanya ada keyakinan bahwa roh para leluhur mendambakan kelestarian garis yang memujanya.  Selain itu roh para leluhur juga diharapkan dapat menghindarkan bahaya serta dapat mendatangkan kebaikan, karena para roh tersebut dipercaya sangat menentukan nasib mereka.

c.       Bentuk Kultus Sesembahan Bersifat Komunal
Pemujaan terhadap arwah leluhur seringkali melibatkan kepercayaan bahwa semua anggota suku adalah keturunan dari seseorang tokoh tertentu yang yang dipuja. Karena itu di sini tampak adanya pemujaan yang terikat dengan pertalian kekerabatan. Kesimpulannya orang yang meninggal disembah oleh suatu kelompok seperti keluarga dan klan karena roh ini merupakan anggota keluarga pada waktu hidupnya dulu.

Bentuk-bentuk kultus sesembahan seperti itu selain masih banyak di kalangan suku-suku primitif juga terdapat di sekitar kita saat ini yang banyak kita jumpai.






Penutup
Demikian makalah yang dapat saya buat, saya sadar dalam pembuatan makalah ini banyak sekali kekurangan dan kesalahan, Dari itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wallahummuwafiq Illaaqwammintoriq. Wassalammualaikum Wr. Wb





DAFTAR PUSTAKA

Al Barry, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkeola, 2001).

Daradjat, Zakiah, dkk, Perbandingan Agama, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996).

Jamil, Abdul, dkk, Islam & Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000).

Kuncoroningrat, Sejarah Kebudayaan Indonesia, (Yogyakarta: Jambatan, 1954).

Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, (Yogyakarta: Kanisius, 1973).

Priyohutomo, Sejarah Kebudayaan Indonesia  Jilid II, (Jakarta: J.B. Walters, 1953).








[1] H. Abdul Jamil, dkk, Islam & Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 3.

[2] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, Perbandingan Agama, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 24.
[3] M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkeola, 2001), hlm. 32.
[4]  Kuncoroningrat, Sejarah Kebudayaan Indonesia, (Yogyakarta: Jambatan, 1954), hlm. 103.
[6] H. Abdul Jamil, dkk, op. Cit., hlm. 6.
[7] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 44
[8] Priyohutomo, Sejarah Kebudayaan Indonesia  Jilid II, (Jakarta: J.B. Walters, 1953), hlm. 10.
[9] H. Abdul Jamil, dkk, loc. Cit.
[10] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 45.
[12] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 35-36.
[13] Menurut Babad Tanah Jawi (abad ke-19), menceritakan bahwa nama asli dari Nyai Roro Kidul adalah Ratna Suwinda putri   dari seorang raja Pajajaran yang bernama Raja Mudingsari. Sedang menurut versi masyarakat Yogyakarta, Nyai Roro Kidul adalah gadis yang buruk rupa putri dari Begawan Abdi Waksa Geni. Oleh karena itu ia diperintah ayahnya untuk mandi dan bertapa di laut selatan. Nyai Roro Kidul juga dipercaya menjadi “istri spiritual” bagi raja-raja Mataram Islam (Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta).
[14] H. Abdul Jamil, dkk, op. Cit., hlm. 9.
[15] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 98
[16] Ibid.
[17]Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, (Yogyakarta: Kanisius, 1973), hlm. 318
[18] Ibid.
[19] Dalam Kamus Ilmiah Populer, mana artinya kekuatan ghaib; reaksi primitif manusia terhadap timbulnya sesuatu, sehingga menimbulkan sifat takut, kuatir, cemas, hati-hati, dll.
[20] M. Dahlan Al Barry, op. Cit., hlm. 112.
[21] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 109.
[22] Fetish adalah benda-benda yang mengandung mana.
[23] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 110
[24] Ibid., hlm. 106
[25] Ibid., hlm. 47-49.
[26] Kultus; penghormatan resmi, ibadat, penghormatan secara berlebih-lebihan kepada orang atau benda.

[27] Dr. Zakiah Daradjat, op. Cit., hlm. 48



 INILAH CONTOH CONTOH PERBUATAN SYIRIK

1.    Tradisi Penghormatan Atas Bunga-bungaan.

Status bunga-bungaan ditengah-tengah sebagian besar masyarakat mendapatkan tempat secara khusus, sehingga dalam hal-hal yang bersifat sakral dan ritual bunga-bungaan tidak pernah dilupakan. Setiap upacara hajatan seperti siraman atau mandi-mandi bagi calon pengantin dan upacara tingkepan atau mandi-mandi bagi wanita yang hamil, memandikan jenazah, hiasan usungan/tandu jenazah, menaburkan bunga pada saat ziarah di kubur. Bunga juga dijadikan untuk sesajen seperti meletakkannya dipersimpangan-persimpangan jalan yang dianggap sering terjadinya kecelakaan. Bunga juga dianggap dapat memberikan perlindungan dari kecelakaan sebagaimana yang diyakini oleh para banyak kalangan sopir dan pemilik mobil. Bunga juga dijadikan sarana nazar dengan menempatkan/menggantungkannya di mimbar-mimbar masjid tempat khatib berkhotbah.
Bunga-bungaan dijdikan pula sebagai sarana untuk mengobati orang-orang yang sakit yang datang kedukun, bunga-bungaan juga dijadikan sebagai sarana untuk keperluan mantera-mantera mencari jodoh sampai menjadi alat untuk menyantet
Jenis- jenis bunga-bungaan yang berbau harum dianggap mempunyai nilai magis antara lain bunga kantil (cempaka ),kenanga, melati, mawar juga yang lainnya, sehingga bunga-bungaan tersebut bernilai tinggi dibandingkan dengan yang lainnya.
Bunga-bungaan memang memiliki nilai estitika/keindahan dimata manusia dan dijadikan sebagai pengharum sehingga dijadikan sebagai hiasan untuk memperindah suasana dan ruangan, tetapi oleh sebagian kalangan kedudukan bunga mempunyai nilai magis dan sakral, sehingga dijadikan perantara dan persembahan kepada makhluk halus berupa jin yang ditakuti.

2.    Tradisi Memperingati Hari Kematian.

Animisme dan dinamisme kepercayaan jahiliyah yang dianut nenek moyang masyarakat dinegeri ini sebelum datangnya Islam, meyakini bahwa bahwa arwah yang telah dicabut dari jasadnya akan gentayangan disekitar rumah selama tujuh hari (7), kemudian setelahnya akan meninggalkan tempat tersebut akan kembali pada hari ke EMPAT PULUH HARI, HARI KESERATUS DAN HARI KESERIBUNYA atau mereka meyakini bahwa arwah akan datang setiap tanggal dan bulan dimana dia meninggal ia akan kembali ketempat tersebut, sehingga masyarakat pada saat itu ketakutan akan gangguan arwah tersebut dan membacakan mantra mantra sesuai keyakinan mereka.
Setelah Islam mulai masuk dibawa oleh para Ulama yang berdagang ketanah air ini, mereka memandang bahwa ini adalah suatu kebiasaan yang MENYELISIHI SYARI'AT ISLAM, lalu mereka berusaha menghapusnya dengan PERLAHAN, dengan cara memasukan BACAAN BACAAN berupa kalimat kalimat THOYYIBAH sebagai pengganti mantra mantra yang tidak dibenarkan menurut ajaran Islam dengan harapan supaya mereka bisa berubah sedikit demi sedikit dan meninggalkan acara tersebut menuju ajaran Islam yang murni. AKAN TETAPI SEBELUM TUJUAN AKHIR INI TERWUJUD, dan acara pembacaan kalimat kalimat thoyyibah ini sudah menggantikan bacaan mantra mantra yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, PARA ULAMA YANG BERTUJUAN BAIK INI MENINGGAL DUNIA, sehingga datanglah generasi selanjutnya yang mereka ini tidak mengetahui tujuan generasi AWAL yang telah mengadakan acara tersebut dengan maksud untuk meninggalkan secara perlahan. Jadilah peringatan kematian itu menjadi tahlilan.


3.    Tentang Penyembelihan Kurban

Penyembelihan kurban untuk orang mati pada hari naasnya (hari 1,7,4,….1000) [terdapat] pada kitab Panca Yadnya hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39 yang berbunyi “Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara korban, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan dunia.” (Mewedha, yasinan, tahlilan)
Bertentangan dengan Firman Allah : "Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS.An-Al’aam [6]: 162). Lihat juga 27: 80, dan 35: 22


4.    Tentang Kuade/Kembar Mayang

Kuade merupakan hasil karya dan sebagai simbol pada manusia atas kemurahan para Dewa-Dewa. Sedang kembar mayang sebagai penolak balak dan lambang kemakmuran.
Kita harus yakin atas pertolongan Alloh Subhanahu wa Ta’ala:"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imron [3]: 160)
Sesuai perintah Alloh [mengenai] jalan keselamatan:”Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS.Al-Isro’[17]: 15). Periksa juga 39: 55

5.    Tentang Pujian

[yakni yang dilakukan sesudah adzan untuk menunggu iqomat] Terdapat pada kitab Rig Weda hal. 10 :”Tunja tunji ya utari stoma indrastya wajrinah nawidhi asia sustutim” Artinya: ‘Makin tinggilah pujian kami dalam nyanyian kepada Dewa Indra Yang Perkasa’.
[Hal ini] bertentangan dengan Firman Alah :
”Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’roof[7]: 205). Periksa juga 7: 55, 19: 1,2,3


6.    Tradisi Pesta Sedekah laut
Pesta laut banyak diselenggarakan oleh kalangan masyarakat nelayan yang berdomisili di daerah pesisir/pantai dan biasanya dilakukan setiap setahun sekali dengan ritual melarungkan atau menghanyutkan sesajen ( sesajian ) yang terdiri dari berbagai makanan dan hewan yang telah disembelih (kerbau, kambing atau ayam ). Sesajen yang disiapkan dalam sebuah perahu kecil yang sengaja disiapkan untuk itu diarak beramai-ramai oleh penduduk ketengah laut dengan menggunakan perahu/kapal layaknya karnaval perahu /kapal hias, sesampai ditengah laut sesajen dilarung/dihanyutkan. Namun sebelumnya seorang tokoh kampung terlebih dahulu membacakan doa-doa secara islami yang bercampur dengan mantera-mantera.
Pesta/sedekah laut tersebut dimaksudkan untuk memberikan sesembahan kepada makhluk halus/jin yang mereka sebut sebagai dewa penguasa laut sebagai ucapan rasa syukur dan terimakasih atas rezeki yang diberikan kepada para nelayan berupa hasil tangkapan. Selain itu juga dimaksudkan untuk meredam kemarahan penguasa laut yang dapat membahayakan keselamatan para nelayan selama melaut menangkap ikan. Memberikan sesajen juga sebagai persembahan kepada penguasa laut agar hasil tangkapan para nelayan selama setahun kedepan akan meningkat.
Pesta atau sedekah laut berasal dari kepercayaan pemujaan dewi laut serta dewi perikanan, dimana pemujaan tersebut agar nelayan mendapatkan hasil tangkapan yang banyak., oleh penduduk pesisir yang terus dilestarikan dari generasi kegenerasi berikutnya meskipun mereka menganut Islam.

7.    Tradisi Pesta Sedekah Bumi
Masyarakat yang hidup dengan mata pencaharian sebagai petani selepas dari panen dan menjelang musim tanam yang baru, menyelenggarakan pesta sedekah bumi dengan menyelenggarakan keramaian berupa pertunjukan wayang semalam suntuk.
 Didalam pesta sedekah bumi tersebut pen duduk menyiapkan berbagai rupa sesajen.Sesajen tersebut dipersembahkan oleh penduduk kepada yang mereka sebut sebagai roh halus atau jin penguasa bumi sebagai bentuk rasa terimakasih karena telah memberikan hasil bumi kepada mereka serta berharap hasil bumi yang mereka usahakan akan berlipat ganda, selain itu juga agar penduduk terhindar dari berbagai bentuk bencana.
Selain sesajen tidak ketinggalan disiapkan pula nasi tumpeng.Dalam pemberian sesajen tersebut acara juga dilakukan ritual berupa pembacaan doa yang bercampur dengan mantera-mantera. Pesta sedekah bumi ini juga dimaksudkan untuk meredam kemarahan para roh halus dan jin penguasa bumi dengan memberikan.
 Dalam puncaknya acara ritual sedekah bumi di akhiri dengan melantunkan doa bersama-sama oleh masyarakat setempat dengan dipimpin oleh sesepuh adat. Doa dalam sedekah bumi tersebut umumnya dipimpin oleh sesepuh kampung yang sudah sering dan terbiasa mamimpin jalannya ritual tersebut. didalam lantunan doa  berkolaborasi antara lantunan kalimat kalimat Jawa dan dipadukan dengan doa yang bernuansa Islami. (katanya....??)
              
8.    Tradisi Tumbal

Ritual mempersembahkan tumbal atau sesajen kepada makhuk halus atau jin yang dianggap sebagai penunggu atau penguasa tempat tertentu . Mereka meyakini makhluk halus tersebut memiliki kemampuan untuk memberikan kebaikan atau menimpakan malapetaka kepada siapa saja, sehingga dengan mempersembahkan tumbal atau sesajen mereka berharap dapat meredam kemarahan makhluk halus itu dan agar segala permohonan mereka dipenuhinya. Tumbal yang diberikan biasanya dalam bentuk hewan ternak yang sengaja dikorbankan/disembelih dengan maksud sebagai persembahan kepada makhluk halus atau jin yang diyakini sebagai penunggu atau penguasa sesuatu tempat.
Pemberian tumbal yang dilakukan antara lain :
·        Tumbal hewan ternak untuk keperluan pembangunan proyek-proyek besar, seperti jembatan, pelabuhan laut, pelabuhan udara, gedung-gedung, stadion, menara-menara . Hewan ternak yang dikorbankan sebagai tumbal dapat berupa kerbau, sapi atau kambing yang disembelih yang kepalanya ditanamkan dalam lubang pada saat pemancangan tiang utama yang tentunya dilakukan dengan upacara adat/ritual tertentu. Selanjutnya diadakan selamatan dengan membacakan doa secara islami dengan suguhan beruapa makanan dengan lauk pauk utamanya dari daging hewan tumbal.
·        Tumbal untuk kawah gunung berapi. Dimana hewan yang dijadikan tumbal secara hidup-hidup dilemparkan kedalam kawah bersama-sama dengan sesajen lainnya berupa makanan dan buah-buahan sertahasil bumi lainnya, yang tentunya tidak ketinggalan pula nasi tumpeng.


9.    Tradisi Penghormatan atas Benda-benda Pusaka dan Batu Cincin

Banyak diantara masyarakat yang mengaku sebagai seorang yang muslim, sangat memberikan penghormatan yang tingi dan malah memuja-muja benda-benda pusaka peninggalan para leluhurnya maupun peninggalan raja-raja zaman dahulu baik berupa senjata seperti keris dan tombak, maupun benda-benda lainnya seperti gamelan, gong, kereta dan bahkan kerbau yang dianggap turunan dari kerbau dari zaman kerajaan dianggap kramat dan bertuah. 
Pada waktu-waktu tertentu tidak saja orang-orang dari kraton yang mengadakan upacara membersihkan dan memandikan benda-benda pusaka kraton, namun perorangan yang memiliki dan menyimpan benda-benda pusaka seperti keris dan tombak juga mengadakan ritual memandikan dan membersihkan sebagai bentuk wujud perhatian dan pemeliharaana atas benda pusaka tersebut.
Masyarakat berkeyakinan apabila benda-benda pusaka tersebut tidak dimandikan dan dibersihkan rohnya akan menimbulkan gangguan kepada pemilik dan keluarganya.Selain keyakinan akan benda-benda pusaka, kebanyakan masyarakat juga memiliki keyakinan bahwa cincin yang bermatakan batu-batu khusus mempunyai khasiat dan juga memilki ruh yang dapat mendatangkan kebaikan dan manfaat serta juga dapat mendatangkan kemudharatan, cincin dengan batu permata tertentu diyakini dapat dijadikan penyembuh berbagai macam penyakit. Karenanya tidaklah mengherankan mereka mereka yang mempunyai kepercayaan terhadap cincin yang bermatakan batu tidak sungkan mengeluarkan uang yang besar untuk membelinya. Tetapi tentunya berbeda dengan batu permata sebagai hiasan yang memang memiliki nilai harga yang tinggi seperti intan, jamrud, rubby dan yang lain-lainnya yangh dijual ditoko-toko permata.

10.      Tradisi Siraman/mandi Untuk Calon Pengantin/Wanita Hamil 

Siraman menurut sebutan dalam bahasa jawanya dan mandi-mandi sebutan dalam bahasa banjar, merupakan upacara mandi bagi calon mempelai wanita dan pria sebelum dilakukannya hari pernikahan, dimana masing-masingh calon pengantin dimandikan dengan air bunga-bungaan oleh para keluarga yang telah berfumur dan menguasai tata cara ritualnya.Upacara ritual siraman atau mandi-mandi bagi calon pengantin ini dimaksudkan untuk membersihkan jiwa dan raga dari segala bentuk kekotoran, agar begitu memasuki perkawinan dalam keadaan suci dan bersih.
Di dalam tradisi suku Banjar upacara ritual mandi-mandi juga dilakukan terhadap wanita yang tengah hamil dengan usia kandungan 6 -7 bln. Dikalangan masyarakat Jawa ritual seperti ini disebut dengan tingkepan. Ritual ini dimaksudkan agar janin yang dikandung mendapatkan perlindungan dan dapat lahir dengan selamat. Dalam ritual siraman atau mandi-mandi ini tentunya tidak pernah dilupakan menyiapkan sesajen bagi para makhluk halus agar sipengantin atau perempuan yang hamil yang menjalani prosesi mandi-mandi tidak mendapatkan gangguan sehingga selamat sampai melahirkan.